Thursday, February 23, 2017

MAKNA KECERDASAN

Di papan tulis, saya menggambar sebatang pohon kelapa di tepi pantai, lalu sebutir kelapa yang jatuh dari tangkainya.Lalu saya bercerita, ada 4 anak yang mengamati fenomena alam jatuhnya buah kelapa ditepi pantai itu.

*Anak ke 1: Dengan cekatan, dia mengambil secarik kertas, membuat bidang segi tiga, menentukan sudut, mengira berat kelapa, dan dengan rumus matematikanya anak ini menjelaskan hasil perhitungan ketinggian pohon kelapa, dan energi potensial yang dihasilkan dari kelapa yang jatuh lengkap dengan persamaan matematika dan fisika.

Lalu psikolog tanya kepada siswa saya? Apakah anak ini cerdas?..Dijawab serentak sekelas: “Iya, dia anak yang cerdas. Lalu saya lanjutkan cerita:

*Anak ke 2: Dengan gesit, anak ke dua ini datang memungut kelapa yang jatuh dan bergegas membawanya ke pasar, lalu menawarkan ke pedagang dan dia bersorak ... yesss! Laku Rp 5.000.

Kembali saya bertanya ke anak-anak di kelas: apakah anak ini cerdas?...
Anak-anak menjawab iyaa ... Dia anak yang cerdas. Lalu saya lanjutkan cerita...

*Anak ke 3: Dengan cekatan, dia ambil kelapanya kemudian dia bawa keliling sambil menanyakan, pohon kelapa itu milik siapa? Ini kelapanya jatuh, mau saya kembalikan kepada yang punya pohon.

Saya bertanya kepada anak-anak: apakah anak ini cerdas? Anak-anak dengan mantap menjawab: iya ... dia anak yang cerdas. Saya pun melanjutkan cerita ke empat:

*Anak ke 4: Dengan cekatan, dia mengambil kelapanya kemudian dia melihat ada seorang kakek yang tengah kepanasan dan berteduh dipinggir jalan. "Kek, ini ada kelapa jatuh, tadi saya menemukannya, kakek boleh meminum dan memakan buah kelapanya". Lalu saya bertanya: apakah anak ini, anak yg cerdas? Anak-anak menjawab: “Iya ... dia anak yang cerdas.

Anak-anak menyakini bahwa semua cerita di atas menunjukkan anak yang cerdas. Mereka jujur mengakui bahwa setiap anak memiliki *"Kecerdas-unikan-nya" masing-masing. Dan mereka ingin dihargai *"Kecerdas-unikan-nya"* tersebut.

Namun yang sering terjadi, di dunia kita, dunia para orangtua dan pendidik, menilai kecerdasan anak hanya dari satu sisi, yakni: "Kecerdasan Anak Pertama berupa Kecerdasan Akademik". Lebih parahnya, kecerdasan yang dianggap oleh negara, adalah kecerdasan anak pertama yang diukur dari nilai saat mengerjakan UN.

Sedangkan Kecerdasan Finansial (anak no 2), Kecerdasan Karakter (anak no 3) dan Kecerdasan Sosial (anak no 4) belum terlalu diberikan ruang oleh Negara dan belum diakui.

Kecerdasan anak Anda termasuk nomor berapa?
Saya jadi ingat, dulu sering kami jadikan olok-olokan saat SMA, antara anak IPA dan anak IPS, siapa yg sebenarnya cerdas? Bagaimana kira-kira perasaan anak-anak IPS ya? Terkadang terasa diperlakukan jadi siswa yang terpinggirkan. Duh menyedihkan.

Anak-anak Anda semuanya adalah anak-anak yang cerdas dengan *"Keunikan dan Kecerdasan-nya" masing-masing. Hargai dan jangan samakan dengan orang lain atau bahkan dengan diri Anda sendiri.

Mari hargai kecerdasan anak kita masing-masing, dan siapkan mereka dengan 4 kecerdasan: (Akademik, Finansial, Karakter, dan Sosial) sebagai pedoman dimana mereka akan mengarungi lautan hidup kelak. Sadarilah bahwa tiap manusia lahir dengan kecerdasan dan keunikannya masing-masing.

Semoga dengan membaca tulisan ini, tidak ada lagi perkataan: "Anak dokter kok tidak pinter", "anak dosen kok tidak pinter", anak karyawan bank kok tidak pinter"...dll

Sumber: Tulisan dari KOMPPAK (Komunitas Pecinta Pendidikan, Anak, dan Keluarga).

0 comments:

Post a Comment