Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Monday, November 21, 2016

Habib Luthfi: Jangan Terprovokasi Pengganggu Stabilitas NKRI!


Wasdiun, NU Online | Add By Mahbib | Jumat, 28 Oktober 2016 09:00

Brebes, NU Online

Rais ‘Amm Jam’iyah Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdiyah (Jatman) Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah dari penjajah tetapi karena wirid santri dan perjuangan para ulama serta pejuang lainnya.

Ia menyampaikan hal itu saat berceramah dalam peringatan Hari Santri Nasional di Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Selasa (25/10) malam lalu. Perjuangan tersebut, katanya, tanpa mengenal lelah selama ratusan tahun dengan mengorbankan harta benda bahkan nyawa.

Untuk itu, Habib berpesan agar pemuda NU jangan terprovokasi dengan isu-isu yang mengganggu stabilitas NKRI. Sebagai penerus kemerdekaan bangsa, pemuda harus terus kobarkan semangat perjuangan. Para pendahulu NU seperti Hadratusyaikh KH Hasyim Asya'ri, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syamsuri, KH Abdul Abbas Djamil telah lama berjuang di medan juang. “Apa sekarang yang bisa kalian berikan untuk NKRI?” tanya habib kepada ribuan pengunjung.

Peringatan Hari Santri Nasional yang digelar IPNU-IPPNU dam Gerakan Pemuda Ansor Ketanggungan juga diisi dengan Festival Hadrah. Ketua Panitia Lomba Hadrah Ahmad Muzaki menjelasakan, lomba ini diikuti 15 peserta di halaman Masjid Jami Murni Desa Kubangjati, Kecamatan Ketanggungan, Brebes. 

Sebagai juara 1 grup hadrah Pancasona dari ranting IPNU Kubangsari, juara 2 Al-Ikhsaniyatuniswah dari ranting IPPNU Padakaton, juara 3 dari ranting Nurul Fattah IPNU Cikeusal Kidul. Acara ini dimeriahkan grup hadrah Az-Zahir pimpinan Al Habib Ali Zainal Abidin As-segaf dari Kota Tegal.

Sementara penceramah lain Dr H Muhammad Abbas Fuad Hasyim MA dari Pesantren Buntet Cirebon  mengajak para pemuda NU untuk terus memegang teguh Aqidah Ahlusunah wal jama'ah An-Nahdliyah yang sudah dianut para ulama NU. Jangan sampai terjerumus aliran-aliran yang tidak jelas. IPNU dan Ansor sebagai wadah pemuda NU diharap aktif bergerak melakukan kegiatan yang bisa menyentuh masyarakat. (Wasdiun/Mahbib)

Baca Juga

Habib Syech: Jadilah Seperti Gula Dalam Kopi

Habib Ali Assegaf: Kita Harus Berterima Kasih kepada Mbah Hasyim

Hadirkan Habib Luthfi, Pelajar NU Pangkah Deklarasi Antinarkoba dan Radikalisme

Helmy Faishal: Umat harus Bersatu Membangun Peradaban

Semangat Kebangsaan Ulama Thariqah

 

  

KONTAK

Nahdlatul Ulama
Jl. Kramat Raya 164
Jakarta 46133 - Indonesia
redaksi[at]nu.or.id

MEDIA PARTNER

164 Channel

© 2016 NU Online. All rights reserved. Nahdlatul Ulama

Sunday, November 20, 2016

PBNU Minta Masyarakat Tak Gulirkan Wacana Pemakzulan Jokowi

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj meminta masyarakat tak menggulirkan wacana pemakzulan terhadap Presiden Joko Widodo.

Apalagi, jika pemakzulan tersebut memanfaatkan kasus dugaan penistaan agama yang menjerat Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Said mengatakan, Presiden tak bisa diturunkan tiba-tiba tanpa ada alasan yang jelas.

Pasalnya, sistem pemerintahan presidensial telah menjamin bahwa Kepala Negara tidak bisa diberhentikan ketika memerintah, kecuali jika melanggar konstitusi.

"Dalam sistem presidensial tidak mengenal diturunkan di tengah jalan, kecuali kalau ada pelanggaran paling prinsip melanggar Pancasila dan UUD 1945," kata Said usai konferensi pers di Kantor PBNU, Jakarta, Kamis (17/11/2016).

Menurut Said, Presiden baru bisa diberhentikan jika telah lima tahun menjabat sesuai aturan yang ada.

Dia berharap tak ada lagi kasus pemberhentian presiden tanpa alasan yang jelas, seperti yang menimpa Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada 2001.

"Selama tidak ada pelanggaran sangat fatal tidak boleh diturunkan di tengah jalan lima tahun baru bisa. Jangan sampai peristiwa Gus Dur itu terulang kembali," ujar Said.

Said mengatakan, NU akan selalu menghormati siapa pun yang menjabat sebagai Presiden RI, termasuk Jokowi.

Menurut Said, penghormatan itu dilakukan karena NU berpegang pada konstitusi yang berlaku di Indonesia.

"NU akan selalu di belakang konstitusi. Siapa pun presidennya kalau itu memang dipilih oleh rakyat harus kita hargai dan kita hormati," ucap Said.

Friday, November 18, 2016

Perahu Nabi NUH AS dan SUMPAH PEMUDA

*Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.                                                                     *Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.                                                                    *Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Begitulah isi sumpah pemuda yg selalu harus kita tanamkan pada jiwa kita. Kita mungkin lupa-lupa ingat tentang kisah nabi Nuh AS yg berjuang meyakinkan umatnya untuk masuk ke perahunya bersama-sama guna menyelamatkan diri dari hujan dan badai yg ujungnya menjadi banjir bandang mungkin lebih besar dri tsunami aceh atau jebolnya tanggul situgintung. Umat nabi nuh bahkan putranya sendiri yg ngeyel untuk berlindung atas dibukit akhirnya tidak tergilas oleh banjir dan hanya nabi nuh dan umatnya yg didalam perahu lah yg terselamatkan dri banjir tersebut.

Sumpah pemuda yg menjadi komitmen kita bersama bagaikn perahu nabi nuh yg menyelamatkn kita dari serangan budaya asing yg istiqomah berdakwah. Karena sumpah pemuda yg selalu meyakinkan kita bahwa hanya satu tanah  air kita TANAH AIR INDONESIA. Kita hanya berbangsa satu BANGSA INDONESIA. hanya satu bahasa kita BAHASA INDONESIA. Itulah perahu jati diri pemuda indonesia.

Kita mimun airnya indonesia yg mengalir menjdi darah kita

Kita makan beras dan buah"an indonesia yg menjdi daging kita

Kita menghirup udara indonesia yg menjdi nafas kita

Kita bersujud di bumi indonesia yg menjdi sajadah kita

Kita dikubur di tanah indonesia yg menjdi selimut kita.

TIDAK ADA ALASAN UNTUK TIDAK MENJADI INDONESIA

SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA 28 OKT 2016

by : BA (bocah angon)