Wednesday, July 12, 2017

TANYA KENAPA

1#
Dulu, pimpinan Ikhwanul Muslimin Mesir, Mohammad Moorsi dan puluhan bahkan ratusan pengikutnya, dihukum mati oleh rezim militer As-Sisi, Mesir. Liga Arab, negara-negara kaya teluk, diam membisu. Mereka takut terhadap tuan mereka, AMERIKA SERIKAT yang dalam setiap kesempatan mengatakan akan “bermurah hati” memberikan jaminan politik dan keamanan terhadap eksistensi "glamouritas" kerajaan mereka.

2#
Setahu saya, eksistensi entitas Palestina sebagai sebuah negara tidak diinginkan oleh kerajaan-kerajaan kaya di Timur Tengah sana. Selain Iran, Suriah dan Libya, hampir dikatakan tak ada negara/kerajaan di Timur Tengah yang mengakui Palestina sebagai sebuah entitas negara. Bahkan Arab Saudi dan negara kaya teluk lainnnya, justru dikenal sebagai sahabat dekat Israel dan Amerika Serikat. Tak usah kita deskripsikan untuk memperlihatkan kedekatan tersebut, "rabab se lah nan manyampaian", bak kata “postulat” dalam tradisi kultural Minangkabau.

3#
Pada era 1980-an, Qaddafy yang "flamboyan" itu  pernah berkata bahwa persoalan Palestina bisa selesai bila negara-negara kaya teluk yang dipimpin para Sultan itu memang serius untuk memaksa AS dan Israel. Nyatanya tidak. Mereka takut pada dua negara ini. Bukan takut perang. Bila perang, pasti akan kalah. Mereka takut, pelindung mereka akan hilang. Pernahkah  negara-negara kaya teluk yang dipimpin para Sultan itu melawan dan fokus memperjuangkan Palestina dan melawan hegemoni negera-negara Barat di Timur Tengah. Jawabannya, pernah. Ini terjadi ketika Arab Saudi dibawah Raja Faisal, raja zuhud yang hidupnya diakhiri oleh pelor “keponakannya” yang menurut saya mewarisi semangat Ibnu Muljam, sang pembunuh salah seorang khulafaurrasyidin. Melalui kebijakan “politik-minyak”nya, Raja Faisal mampu menunjukkan kedaulatan politik Arab Saudi. Negara-negara barat yang amat sangat tergantung dengan minyak, menjadi “kelimpungan”. Sayang, Raja Faisal tidak memerintah lama. Pasca kematian beliau, Arab Saudi dan negara-negara kaya teluk, kembali “menggadaikan” masa depan politik mereka kepada Paman Sam. Siapa musuh AS, itu adalah musuh negara-negara kaya teluk yang dipimpin para Sultan itu. Siapapun kawan AS, tentunya juga menjadi kawan mereka pula. Dan Palestina ..... tetap menjadi komoditas politik bagi politisi tanah air. Israel dan AS disumpahi, padahal Arab Saudi berteman mesra dengan dua negara hebat ini.

Tanya kenapa !

Bila kita membaca sejarah politik (Islam) sejak berdirinya Dinasti Umayyah, dan beberapa dinasti lainnya seumpama Fatimiyah, Idrisiyah, Abbasiyah, Seljuk, Turki UItsmany, Mughal dan kesultanan Islam lainnya di kawasan Asia Tenggara dan India, maka akan terdapat sebuah benang merah, "mudah sekali para elit politik menggunakan simbol-simbol Islam untuk kepentingan dan isu politik mereka". 

Dinasti Umayyah menciptakan "kondisi" untuk membenci keluarga Ali bin Abi Thalib, dan ini kemudian dijustifikasi oleh "tafsiran-tafsiran" agama oleh para elit agama masa ini. Pada sisi lain, dinasti Abbasiyah, justru mendiskreditkan keturunan klan Dinasti Umayyah dengan tentunya kembali memanfaatkan "tafsiran-tafsiran" normatif agama pula. Sejarah mencatat dengan baik hal ini.

Tanya kenapa  !
HISTORIA VITAE MAGISTRA.

Dan ketika seorang kawan "menghakimi" saya dengan mengatakan, "saya anti Arab". Saya hanya menjawab, "idola saya nabi Muhammad. manusia mulia lagi hebat. seorang laki-laki dan pemimpin nan agung. Beliau orang Arab. Dan Abu Lahab, Abu Jahal dan Abu-Abu sejenis Abu Lahab-Abu Jahal adalah musuh terbesar Nabi Muhammad (juga) orang Arab. Tahukah kamu, saya juga punya idola lain, para khulafaurrasyidin. Saya bangga dengan Abu Bakar ayah Aisyah itu. Tentang loyalitas yang teramat total pada sahabatnya, Muhammad SAW. Pada Umar bin Khattab, mata saya selalu berbinar membaca penggalan-penggalan riwayat hidupnya. Pun demikian ketika membaca riwayat hidup yang dipenuhi oleh nilai-nilai bernas dari Utsman bin Affan serta Ali bin Abi Thalib. Mereka itu orang Arab. Tiga diantara mereka, dibunuh pula oleh orang Arab atau suruhan orang Arab".

:)

Wallahu a'lam.
Dina sulaiman

0 comments:

Post a Comment