#Siapa yg tdk kenal dg Washil bin Atha'? Washil bin Atha' dulunya adl murid dari Al Imam Hasan al Bashri. Ia dlm waktu bbrapa lama bermulazamah ikut dlm halqah yg diasuh oleh Hasan al Bashri. Hingga suatu ketika ia harus keluar dr halqahnya Imam al Hasan. Lantaran di antara sebab utama i'tizal (berlepas dirinya) dr halqah Sang Guru adl ia bseberangan dg imam Al Hasan dlm masalah perbuatan Allah n Perbuatan manusia. Bagi Washil bhw manusia lah yg menciptakan pbuatannya sendiri shg manusiapun layak utk diberikn balasan oleh Allah Swt, baik berupa pahala maupun dosa. Akhirnya Washil pun sbg pelopor bdirinya aliran Mu'tazilah. Washil bin Atha' walau mengembangkan pemikiran yg bertentangan dg mainstream pemahaman ahlus sunnah wal jama'ah, ia tidak berlindung di balik kebesaran nama sang guru yakni Al Imam Hasan al Bashri. Walopun sebelumnya, ia mempunyai sanad keilmuwan ke Imam al Hasan bashri. Washil bin Atha mnyadari sepenuhnya bhw pemahaman theologis yg dikembangkannya berbeda dg sang Guru, imam al Hasan. Tentu saja sangat tdk layak bila ia mnyandarkan pemahaman barunya kpd kebesaran nama sang Guru. Washil bin Atha pun bertanggungjwb sepenuhnya dg pemahaman yg dikembangkannya, walau notabenenya bertentangan dg pemahaman yg shohih terkait perbuatan Allah n perbuatan hamba dg semua ide turunannya.
#Saat ini, kmd muncul mrk yg menamakan dirinya intelektual muslim, tokoh umat, dan ulama, dengan percaya diri mengklaim bhwa pemikiran yg dikembangkannya itu memiliki sanad keilmuwan yg jelas kpd guru gurunya dari para masyayikh. Tentu alibi yg dkembangkan adl mrk sudah sekian lama menimba ilmu di Pesantren. Padahal notabene pemikiran yg dikembangkannya btentangan dg apa yg mrk klaim dg sanad keilmuwan. Jadi mrk mengembangkan pemikiran pemikiran yg syad n gak pernah dikenal dlm khasanah Tsaqafah islam, dg blindung di balik kesakralan apa yg disbut dg Sanad Keilmuwan.
sebagai contoh:
1. Ada seorang yg disebut kyai yg kebetulan memangku pesantren. Akan tetapi ktk beliau bsinggungan dg pjuangan Khilafah, dg serta merta membentengi diri dg mnyatakan bhwa kyai tdk perlu ikut kluar dr pesantren, krn metode pmbelajaran islam dari para guru beliau tdk pernah mngajarkn utk ikut kluar bjuang dr pesantren. seakan hal tsb merupakan pemahaman salafus sholih.
Tentu, pd satu sisi ada benarnya bhw kyai kyai di pesantren tdk perlu kluar ikut bjuang di luar pesantren pd saat bhw Khilafah sbg sistem pemerintahan Islam masih establish. Akan tetapi pd satu sisi yg lain, ktk Khilafah sudah diabolish (dihapus) dari kehidupan kaum muslimin tentu tdk bijaksana bila mnyandarkan pemikiran bhw kyai n ulama tdk perlu ikut keluar dr pesantren sbg pemahaman salafush sholih. Kita sudah maklum, al Imam Izzuddin bin Abdis salam asy Syafi'iy, sulthonul ulama, di saat Khilafah Abbashiyyah runtuh krn serbuan Tar Tar pd thn 1258 M, beliau rahimahullah bangkit mengobarkan kpedulian para ulama utk ikut bjuang mengembalikan tegaknya Khilafah. Akhirnya dlm waktu 3 tahun kmd, Khilafah Islam pun tegak kembali dg ibu kotanya di Damaskus, Syria. Inilah teladan para ulama salafush sholih di bawah komando al Imam Izzuddin bin Abdis salam, sulthonul ulama. dan masih bnyak teladan dari para ulama salafush sholih akan kiprah perjuangan mrk dlm mjaga kelurusan penerapan hukum islam di masanya. Sebut misal Ibnu Taimiyyah, Imam Ahmad bin Hanbal yg myatakn dg shorih bhw al Qur'an itu adl kalamullah di hadapan penguasa saat itu, juga ada Syaikh Aaq Syamsuddin yg ikut kluar mdampingi Muhammad al Fatih dlm menaklukan Konstantinopel n masih bnyak lainnya.
2. Ada juga kalangan yg disebut intelektual muslim lalu menyatakn bhw sistem Khilafah itu adalah hasil ijtihad. Yang tpenting adl dlm suatu negara (apapun bentuk pmerintahannya baik itu Republik, kerajaan, Khilafah dll) twujud apa yg dinamakn dg maqasid syariah. Dgn percaya dirinya ia mengklaim pendapatnya tsb sesuai dg Al Imam Asy Syathibi dg maqashidus syariahnya. Yg penting negara itu mampu mlindungi kehormatan, harta, agama serta kedaulatannya tnp harus keukeuh dg sistem Khilafah.
Pertanyaan kritisnya tentu apakah pemahaman maqashid syariah al Syathibi memang demikian?? apakah dg sistem demokrasi yg diterapkan di Indonesia saat ini mampu mwujudkn maqasihd syariah yg diklaim tsb?? apakah kedaulatan wilayah indonesia tjaga tnp Islam? apa yg anda akan katakan ttg lepasnya Timor Leste?? apa yg anda akan katakan dg maraknya kejahatan n pnyakit masyarakat saat ini spt perzinaan, pjudian, LGBT?? apa yg akan anda katakan ttg adanya penistaan agama n tumpulnya hukum thdapnya??!
Jadi sangat absurd menginginkan terwujudnya maqashidus syariah dlm rangka terwujudnya pjagaan thd agama, kehormatan, jiwa, negara n harta benda tanpa penegakkan Syariat Islam dlm naungan institusi politik, al Khilafah Islamiyyah. Yang Khilafah islam itu mrupakan sesuatu yg maklum min addiin bi adh dhoruroh.
(Mimizz al 'Ain).

0 comments:
Post a Comment