pada suatu malam Sayyidina Umar berjalan di alun alun kota madinah, kemudian ia mendengarkan seorang wanita yang melanturkan syair berikut:
لقد طال هذا الليل وازور جانبه وأرقني أن لا خليل ألاعبه
فوالله لولا الله تخشى عواقبه لحرك من هذا السرير جوانبه
مخافة ربي والحياء يصدني مخافة بعلي أن تنال مراتبه
" Sesungguhnya malam benar benar terasa panjang dan sebagiannya telah berlalu
Kesepian tiada kekasih yang bisa ku ajak bercanda ria telah membangunkanku
Demi Allah ! jikalau bukan karena takut akan azabnya
Sungguh tepian ranjang ini akan bergetar hebat
Namun rasa malu dan takut kepada tuhanku mencegah diriku
Dan aku khawatir akan menggangu suamiku untuk meraih derajat yang tinggi "
Kemuadian Sayyidina Umar menghampirinya seraya berkata:
“kemanakah pergi suamimu ?” ia menjawab: “ia telah lama pergi berperang dijalan Allah.
>Kemudian Sayyidina Umar pulang kerumah dan bertanya kepada putrinya hafsah:
>“berapa lamakah seorang wanita dapat menahan diri dari berhubungan intim ?”
>hafsah menjawab:
“empat bulan, lebih dari itu ia kesabarannya akan habis atau tinggal sedikit”.
Setelah kejadian ini, Sayyidina Umar membuat kebijakan bahwa waktu peperangan tidak boleh lebih dari empat bulan, hal ini agar para wanita tidak tersiksa dengan kesepian mereka dari sentuhan suami yang mereka cintai..
Referensi: mahalli juz 4 hal 11 cet dar fikri bairut, lebanon
[pasrah namun tak rela]
Ngopii ngadeep Nguloon

0 comments:
Post a Comment