Nahdlatul Ulama (NU) lebih dulu berdiri jauh sebelum HT. Guru KH Hasyim Asy'ari selain Syaikh Yusuf saat mondok di Makkah adalah Syaikh al-Allamah Abdul Hamid al-Darutsani dan Syaikh Muhammad Syuaib al-Maghribi. Selain itu, beliau berguru kepada Syaikh Ahmad Amin al-Athar, Sayyid Sultan ibn Hasyim, Sayyid Ahmad ibn Hasan al-Attar, Sayyid Alawi ibn Ahmad as-Saqaf, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Abdullah al-Zawawy, Syaikh Sholeh Bafadhal dan Syaikh Sultan Hasyim Dagatsani.
Para tokoh NU sering mengkritik pendapat para syabab HT yang terlalu berlebihan mengagungkan Syaikh Taqiyuddin sampai menganggapnya Mujtahid Mutlak. Namun HT hanyalah sebuah partai politik Islam yang jika memang mempunyai perbedaan tentang furu’iyyah dengan NU Aswaja maka tidak boleh dituduh sesat. Justru sangat keliru menyebut HT sebagai Wahabbi karena Amir kedua HT bernama Syaikh Abdul Qodim Zallum justru mengarang sebuah kitab bernama “Kaifa Hudimatil Khilafah” yang isinya menyebut bahwa salah satu sebab runtuhnya Khilafah Ottoman Turkish dari faktor eksternal adalah pemberontakan Wahabi Muhammad bin Abdul Wahhab di Hijaz. Wahabi sendiri sangat membenci HT dan Ikhwanul Muslimin (IM).
Saling Menghormati
Menghormati Gus Dur sebagai guru seharusnya secara nalar harus menghormati Syaikh Taqiyuddin. Jika Gus Dur adalah cucu pendiri NU maka Syaikh Taqiyuddin adalah cucu Guru dari pendiri NU. Ini nalar secara logika dan cerdas diakui maupun tidak.
Syaikh Taqiyuddin memang kurang begitu dikenal di kalangan ulama Mazhab Syafi’i, namun Syaikh Yusuf An-Nabhani adalah tokoh besar Mutaakkhirin tasawuf bermazhab Syafi’i. Syaikh Yusuf sangat dihormati oleh para Ulama dan Habaib di Hadramaut Yaman. Kitab beliau merupakan pegangan Ahli Tasawuf di Zamannya.
Diceritakan bahwa Mufti Mazhab Syafi’i dahulu Sayyid Abdurrahman Bin Ubaidillah As Seggaf ra pernah mengkritik pendapat Syaikh Yusuf An-Nabhani ra dalam beberapa bait syair. Tak lama Ibnu Ubaidillah pun mimpi bertemu Nabi Muhammad Saw dan Nabi pun menegur Ibnu Ubaidillah supaya menghormati Syaikh Yusuf karena beliau adalah ulama yang mencintai sepenuh hati terhadap Nabi Muhammad Saw.
Kitab beliau diantaranya adalah Hadi al-Murid ila Thuruq Al-Asanid, Hujjat-Allahi ala al-Alamin, Jawahir al-bihar, Sa’adat al-Darayn fi Shalati ‘Ala Sayyid Al- Kaunain, Afdhalu Ash-Shalawat ‘Ala Sayyid As-Sadat, Ahsan al-Wasāil fī Nazmi Asmāi al-Nabiyyi al-Kāmil, Al Fathul Kabir, 3 jilid besar, cetakan Musthafa al Babil Halabi, Kairo yang berisi lebih dan 14.450 hadits, Muntakhab, dari dua kitab Sahih yang berisi 3010 hadits sahih, Al Majmu’atun Nabhaniyah, shalawat-shalawat kepada Nabi (4 jilid), Tafsir Qurratul Ain yang dikutip dari Tafsir Baidhawi dan Jalalein Dan lain-lain banyak lagi. Semua karya beliau ini sudah tercetak, kebanyakannya pada percetakan Kairo dan Beirut.
Syeikh Ismail bin Yusuf an-Nabhani pernah menjabat Hakim Tinggi dalam Mahkamah Tinggi di Beirut. Beliau wafat tahun 1350 H setelah meninggalkan jasa bagi ummat Islam, khususnya yang menganut madzhab Syafi’i. Bahkan kitab beliau jauh lebih banyak dari Hadrotus Syaikh KH Hasyim ‘Asy’ari.
Maka secara nalar, mereka para pencinta Gus Dur jika memang mereka menghormati Gus Dur karena beliau cucu Mbah Hasyim maka harus juga menghormati Syaikh Taqiyuddin karena pendiri HT ini cucu guru Mbah Hasyim. Itu kalau mereka masih menganggap dirinya bermazhab Shafi'i. Namun akan lain tanggapan dan jawaban jika mazhab mereka adalah Pluralisme dan Liberalism.
Sumber: disarikan dari NU Garis Lurus

0 comments:
Post a Comment