Monday, July 3, 2017

Jangan Mudah "Membid'ah2kan, "Menyesat2kan", atau Mencap "Menyimpang" Sesama Muslim

Sejak Zaman sekolah dulu hingga saat ini saya beberapa kali menyaksikan atau bertemu dengan tipe orang yang begitu mudahnya membid'ah2kan, menyesat2kan, atau mencap menyimpang  kepada sesama muslim.

Begitu ada ustad atau jamaah yang memiliki pandangan berbeda dengannya, kata-kata "bid'ah", "sesat", atau "menyimpang", begitu mudah keluar dari lisannya.

Sering saya merenung dan berpikir, bahkan hingga saat ini, apa yang sebenarnya terjadi dengan dakwah kita saat ini sehingga membuat lidah kita begitu tajam kepada sesama muslim? Begitu mudah mengeluarkan cap "bid'ah", "sesat", "menyimpang" kepada saudara sesama muslim.

Bahkan, pernah suatu waktu ada teman yang menginbox saya  dan mengatakan kepada saya untuk tidak mengikuti Zakir Naik, Ustad Sufi (Ustad Aa Gym, Arifin Ilham,dll), Ustad-Ustad Rodja, karena mereka katanya, menyimpang.

Saya, yang sudah tak asing lagi dengan hal seperti ini (karena seperti saya jelaskan diatas bahwa dari zaman sekolah hingga sekarang sudah beberapa kali bertemu dengan tipe orang yang mudah mengatakan muslim lain sesat atau menyimpang), mengajukan sebuah pertanyaan sederhana kepadanya yang kira-kira intinya begini:

"Sudah pernah hadir belum bro di kajian-kajian Aa Gym, Arifin Ilham, Ustad-Ustad Rodja (seperti Ustad Firanda cs) dan sejenisnya, yang bro katakan menyimpang tersebut?"

Yang bersangkutan menjawab secara "diplomatis" kalau dia memang gak hadir di semua kajian ustad-ustad yang ia sebut menyimpang tsb, namun pernah menyaksikan video-videonya. Jreng! Jreng!

Bayangkan teman, bagaimana bisa kita begitu mudahnya mengatakan ustad anu dan anu menyimpang, sementara kita tak hadir di majelisnya? Semestinya kita harus tabayyun sebanyak mungkin dan kalau bisa hadir di pengajiannya agar lebih paham dan tahu seperti apa kondisi sebenarnya ustad-ustad tersebut.

Bahkan saudaraku, kalaupun kita mendapati ada perbedaan pendapat yang kita temukan pada diri seorang ustad, tidaklah berhak kita mencapnya sesat dan menyimpang.

Sebagai teman, saya lalu menasehati balik teman ini agar berhati-hati dan tidak sembarangan dan mudah mencap muslim lain sesat atau menyimpang. Sungguh berat tanggung jawabnya kelak di akhirat mencap sesama muslim dengan cap "sesat"/menyimpang". Apalagi jika ternyata kelak dihadapan Allah tuduhan tersebut ternyata salah!! Maka tuduhan tersebut akan berbalik kepada kita. Naudzubillaahi min dzaalik.

Lalu teman ini meminta nomor WA saya untuk katanya dia akan mengirimkam bukti-bukti kepada saya tentang fakta-fakta menyimpangnya ustad-ustad yang ia sebut diatas.

Lalu saya kemudian memberikan nomor WA saya semata karena saya ingin menyaksikan bukti seperti apa yang akan ia sodorkan untuk mendukung klaimnya kepada ustad-ustad diatas.

Tak berselang berapa lama, ia pun mengirimkan bukti-bukti yang ia maksud tersebut melalui WA.

Dan seperti dugaan saya, sangat disayangkan karena menurut saya, bukti-bukti yang disampaikan adalah link-link tulisan yang menurut saya tak kuat landasan dan lemah untuk dipertanggungjawabkan isi dan kebenarannya. Sayapun kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkan percakapan tersebut dan memutuskan tidak memberikan bantahan atau informasi tandingan apapun karena saya khawatir kalau saya membantah ataupun memberikan info tandingan, kemungkinan besar tidak akan menemukan titik terang dan yang terjadi biasanya dalam hal seperti ini adalah perdebatan dan berbantahan tiada ujung yang jauh dari bermanfaat dan akan menimbulkan perpecahan.

Saudaraku sesama muslim, jangan sampai lidah kita begitu mudah mengatakan ustad anu dan anu sesat dan menyimpang, lalu dengan keji menyebarkan tuduhan-tuduhan dan berita-berita yang sulit dipertanggungjawabkan entah itu melalui media sosial, tulisan, dan media lainnya. Berita-berita yang bahkan sulit bagi kita untuk memvalidasi riwayat dan siapa dan bagaimana kondisi penulisnya.

Jangan sampai, lidah kita begitu mudah mencap sesat dan menyimpang ustad anu dan anu hanya berdasarkan berita atau tulisan-tulisan yang berseliweran di media sosial, blog-blog yang tak jelas validitasnya.  Karena kalau dari awal hati anda sudah benci kepada ustad anu dan anu, maka mudah bagi anda untuk mencari tulisan-tulisan yang menyudutkan ustad tersebut. Segala tulisan ada di media sosial. Banyak sekali diantaranya yang sulit untuk divalidasi dan dipertanggungjawabkan kebenarannya, dan sulit pula terkadang ditelusuri siapa penulis awalnya, apalagi tulisan yang sudah di-share dari tangan ke tangan.

Tahan sejenak tangan kita dari menshare tulisan-tulisan yang menuduh dan menjelekkan seorang ustad/ulama hanya karena ustad tersebut memiliki perbedaan pendapat dan dalil dengan diri kita atau ustad yang sering kita hadiri kajiannya.

Kedepankanlah tabayyun. Dan salah satu sikap tabayyun paling bijak adalah dengan hadir di majelis ustad tersebut. Disitu akan jauh lebih paham seperti apa pemikiran dan karakter seorang ustad tersebut. Kalau anda belum sempat/belum bisa hadir langsung di majelis ustad tersebut, lebih baik ambil sikap yang paling aman yaitu tidak menuduh sesat atau menyimpang.

Dulu, di awal mengenal Ustad Firanda melalui video, jujur saja ada kesan "kurang sreg" terhadap "style"nya berdakwah. Tapi kala itu saya tidak mau terburu-buru antipati terhadap beliau apalagi menjudge dan menuduh hanya berdasarkan nonton video-videonya di dunia maya atau tulisan-tulisan yang memojokkan beliau yang di-share di media sosial.

Lalu ketika hadir langsung di salah satu pengajian beliau, saya mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang beliau dan bagaimana gayanya berdakwah, yang mana jauh berbeda dari persepsi awal saya sewaktu menyaksikan melalui video. Beliau santun dan bijak. Bahkan ketika menjelaskan masalah hukum Maulid Nabi, beliau, Ustad Firanda, pandai menempatkan kata-kata dan jawaban sehingga tidak menyakiti hati orang atau jamaah yang mungkin berseberangan pandangan dengannya perihal hukum mengenai Maulid Nabi.

Teman-teman, tulisan dan video yang kita saksikan melalui media sosial tentang seorang Ustad/Ulama, banyak dan sangat mudah sekali mengalami/menimbulkan distorsi tentang ustad/ulama tersebut. Dan tak sedikit fitnah yang bertebaran didalamnya. Oleh karena itu, jangan sampai kita mudah menuduh dan mencap. Apalagi jika ilmu kita baru sedikit, hafal hadispun sedikit atau bahkan gak ada yang hafal, demikian juga hafalan qur'an sedikit, gak paham ilmu hadist, gak paham fiqih, gak paham Ilmu Ushul Fiqih, dll. Kalau sudah begini, dimana adab kita terhadap ulama dan ustad?

Ketika kemarin hadir langsung di pengajian Ustad Abdul Somad, saya kembali merenung, kok bisa di media sosial ada orang-orang dan anak-anak muda yang mungkin baru belajar agama kemarin sore, kadang belajarnya mungkin pula cuma dari google, hafal qur'an dan hadis sedikit, tak paham Ilmu Fiqih, tak paham Ilmu Hadist, tapi begitu mudahnya mencap dan menuduh Ustad Abdul Somad sesat dan menyimpang. Sedih rasanya menyaksikan fenomena ini.

Ketika hadir langsung di kajian Ustad Abdul Somad, saya  merasakan betapa ilmu agama saya dan saya rasa jamaah lainnya juga; masih sangat-sangat jauh dan sangatlah tidak pantas kita melancarkan tuduhan-tuduhan yang keji kepada beliau. Tentunya bukan hanya kepada Ustad Abdul Somad, tapi juga kepada ustad2 atau ulama2 lainnya.

Ada dua prinsip yang saya pegang dari dahulu dalam beragama dan belajar agama:

(1) Tidak terburu-buru mencap atau menjudge terhadap orang/ustad/ulama yang berbeda  pandangan, berbeda dalil tentang masalah atau hukum-hukum perbuatan dengan kita. Apalagi mengeluarkan tuduhan-tuduhan berat kepada ustad atau jamaah atau majelis lain dengan sebutan "sesat" atau "menyimpang".

(2) Saya adalah tipikal yang tidak mau menutup diri dalam menuntut ilmu agama, hanya belajar dari satu majelis atau guru saja. Belajar dan hadir di berbagai majelis ilmu dan guru adalah salah satu prinsip yang saya jalankan dan yakini dari dahulu.

Di satu waktu saya hadir di kajian Aa Gym. Diwaktu lain saya juga pernah hadir di kajian Ustad Firanda, Ustad Subhan Bawazier dan Nurul Dzikri. Disisi lain kemarin saya hadir pula di kajian Ustad Abdul Somad. Belum lagi mengikuti tausiyah lainnya seperti tausiyah-tausiyah Khalid Basalamah, Yusuf Mansur, Arifin Ilham, Felix Siauw, Salim A Fillah, dll. Pernah pula saya belajar dari seorang ustad atau guru di Hizbut Tahrir meski tak lama. Dan lain-lain.

Ada ilmu yang saya dapatkan di kajian Aa Gym yang sering membahas masalah Tauhid, belum tentu saya dapatkan di kajian lain. Ada pula ilmu yang saya dapatkan di kajian Abdul Somad yang kental dan kuat dengan ilmu hadist dan fiqih, belum tentu saya dapatkan di kajian Aa Gym misalnya. Demikian seterusnya dan seterusnya.

Hadir dan belajar dari berbagai guru dan majelis akan membuat kita lebih dewasa dan lebih bisa menerima perbedaan pendapat misalnya dalam masalah-masalah fiqih, sehingga membuat kita lebih mampu bijaksana dalam beragama dan berdakwah.

Selain itu, sejatinya yang saya saksikan selama ini, ulama/ustad yang satu dengan ulama/ustad yang lain, majelis yang satu dengan majelis yang lain, itu semua saling melengkapi dan menguatkan jika kita mau mengedepankan persamaan, instead of terus-menerus  mengedepankan perbedaan dan perdebatan yang tiada habisnya dan malah menimbulkan kebencian dan perpecahan di tengah umat.

Ketika ada perbedaan pendapat misalnya antara Ustad Khalid dengan Ustad Felix atau Ustad Abdul Somad misalnya dalam sebuah permasalahan, dan ternyata saya pribadi misalnya lebih yakin dengan pendapat Ustad Abdul Somad, maka bukan berarti saya kemudian akan menjauh dan meninggalkan tausiyah-tausiyah Ustad Khalid ataupun Felix Siauw. Apalagi sampai menuduh Ustad Khalid atau Ustad Felix menyimpang atau sesat misalnya.

Demikian juga sebaliknya.  Kalau kita lebih yakin dengan pendapat Ustad Subhan dibanding Ustad Abdul Somad, misalnya mengenai Qunut, jangan sampai kemudian kita antipati dan menuduh Ustad Abdul Somad sesat dan menyimpang.

Ingatlah selalu kisah para Salafusshalih dahulu, mereka-mereka yang hidup di masa 300 tahun setelah wafatnya Nabi, mereka sangat bijak dalam menyikapi perbedaan pendapat. Bukan saling menjatuhkan dan melempar tuduhan sesama muslim.

Jika kita mampu bersikap bijak dalam menyikapi perbedaan pendapat, maka InsyaAllah perpecahan dalam Islam dapat dihindarkan.

Semoga bermanfaat buat Ummat...

0 comments:

Post a Comment