Wednesday, July 5, 2017

KENAPA KAMI SELALU DIPROVOKASI???

(by : Iramawati Oemar)

Bangsa Indonesia sudah lama hidup dalam masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi dalam diam, toleransi tanpa gembar-gembor.
Toleransi jangan diartikan sempit hanya berkaitan soal agama saja. Toleransi yang dikenal bangsa yang punya akar budaya timur ini adalah toleransi dalam berbagai aspek kehidupan : kesukacitaan,  kedukaan, adat istiadat, norma tak tertulis, dan..., tentu saja agama.

Di tahun '70an sampai '80an ketika trend pernikahan di gedung yang memang khusus disewakan untuk pesta belum marak, ketika jasa catering profesional masih jarang dan mahal,  ketika wedding organizer belum jadi fenomena, ketika style standing party belum lazim, orang yang punya hajat menikahkan anaknya biasanya diorganisir beramai-ramai oleh keluarga, kerabat dan tetangga. Umumnya tetangga spontan merelakan halaman rumahnya jadi tempat terima tamu atau panggung tempat "singgasana pengantin", rumahnya dipinjamkan jadi penginapan gratis bagi sanak famili si empunya hajat yang datang dari luar kota, atau bahkan dapurnya rela jadi acak-acakan dan kotor karena dipinjamkan jadi tempat memasak.
Pada hari H perhelatan, para tetangga spontan membantu menutup jalan dan berjaga di ujung jalan, menjadi pemandu jika ada kendaraan yang terlanjur masuk ke jalan itu.

Begitupun jika ada kematian. Tanpa disuruh para tetangga sukarela menyiapkan makanan dan minuman, para pelayat berdatangan membawa bahan makanan/sembako sekedar meringankan beban yang kesusahan kalau harus menyelenggarakan tahlilan selama tujuh hari. Para tetangga mengeluarkan kursi di rumahnya untuk para pelayat duduk. Kalau perlu pasang tenda, spontan ada yang bantu. Dan..., di ujung jalan ditutup sambil ditancapkan bendera kuning dari secarik kain atau bahkan sekedar kertas, sekedar penanda bahwa jalan itu ditutup karena ada kematian.

Setiap malam 17 Agustus, di beberapa daerah dikenal malam tirakatan. Karena saya arek Suroboyo, saya akan cerita pengalaman sebagai warga Surabaya.
Biasanya di tiap kampung, entah per RT atau per RW,  kaum ibu siang harinya memasak bersama, membuat tumpeng nasi kuning dan segala pernak perniknya. Petang harinya,  selepas maghrib atau Isya, seluruh warga berkumpul, berdoa bersama dan menyantap hidangan masakan warga. Tempatnya di mana?!
Umumnya ya di jalanan! Meski ada balai RW, tapi khusus malam tirakatan lebih "gayeng" kalau di jalan. Balai RW terlalu formal, lebih pas untuk rapat. Sedangkan malam tirakatan semua warga ikut hadir. Bukan hanya kaum bapak, ibu-ibu, anak-anak dan lansia pun ikut larut dalam tasyakuran memperingati kemerdekaan bangsa kita. Sekali lagi, tempatnya DI JALAN KAMPUNG! Tentu jalannya ditutup.
Makanya banyak orang memilih pulang kantor lebih awal atau minimal "tenggo" karena makin mendekati petang, makin banyak jalan yang ditutup. Jangankan mobil, motor saja tak bisa lewat.

Bagaimana dengan di perumahan yang rada elit? Sama saja, malam tirakatan tetap ada, hanya saja biasanya tumpeng nasi kuning dipesan dari catering. Tapi petang harinya pelaksanaan malam tirakatan tak jauh beda dengan di perkampungan. Sekitar 20 tahun lalu, saya pernah diajak kakak sepupu saya menghadiri malam tirakatan di komplek perumahannya. Warganya sebagian besar etnis China,  warga keturunan. Tapi mereka hadir di malam tirakatan. Tempatnya dimana,  gedung pertemuan?!  Tidak! Di jalanan kompleks, tentu saja jalanan ditutup.

*** *** ***

Itu baru sebagian gambaran bahwa "tradisi" menutup jalan di tengah masyarakat kita sudah sangat jamak, lazim. Alasannya bisa karena pesta hajatan pernikahan, ada warga meninggal dunia, ada acara memperingati 17 Agustus, bahkan ada yang karena panggung dangdut atau pagelaran wayang semalam suntuk.

Lalu pernahkah hal-hal semacam ini diributkan di tengah masyarakat?! Tidak!!
Kenapa?!
Karena memang tidak perlu dibikin ribut, tidak perlu jadi masalah besar. Bagaimana kalau ada warga yang sakit mau lewat, atau ibu hendak melahirkan?!
Bangsa ini bukan bangsa barbar yang hanya kenal satu kata "pokoknya saya selalu menang".
Selalu ada kompromi dalam setiap masalah. Kalau ada ambulance hendak lewat, akan dicarikan jalan terbaik, termasuk kalau harus menggeser kursi-kursi yang terlanjur ditata atau menggulung kembali sebagian karpet dan tikar yang keburu digelar.
Kalau perlu warga secara spontan akan membantu. Tanpa perlu tanya apa agama si sakit atau apa suku si ibu yang hendak melahirkan.

Bertahun-tahun tradisi menutup jalan terjadi di berbagai daerah. Tak pernah terdengar kehebohan gara-gara itu ambulance tak bisa lewat.
Sebab acara masyarakat tidak kaku, tidak terikat protokoler baku seperti layaknya rombongan presiden atau iring-iringan tamu negara yang dikawal mobil patwal khusus, dimana jalan DISTERILKAN, tak boleh ada yang lewat termasuk ambulance.

Bangsa kita punya kearifan lokal. Kearifan lokal itulah yang menjaga tradisi semacam itu tetap berjalan tanpa menimbulkan bentrokan antar warga. Sampai sekarang, di kota kecil atau di kampung masih jamak orang menutup jalan demi hajatan pernikahan. Malah bisa 24 jam ditutup karena pernikahannya dihelat besar-besaran.

Jalan ditutup karena pengajian, relatif paling jarang terjadi dibanding alasan lain. Biasanya tabligh akbar atau istighotsah kubro yang memerlukan space luas, barulah menutup jalan.
Tapi kenapa penutupan jalan akibat pengajian yang disoroti seolah jadi biang keladi ambulance tak bisa lewat?!

Alasannya hanya satu : si pencetus ide skenario film tersebut punya rasa KEBENCIAN atau minimal rasa tidak suka pada acara pengajian.
Masyarakat kita bisa dibilang tak pernah menggugat penutupan jalan, karena mereka sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu, sudah maklum.
Hanya orang yang dihatinya ada rasa benci atau tidak suka, yang membangun imajinasi liar tentang dampak buruk yang akan timbul akibat penutupan jalan. Apalagi kalau kemudian di-DIKOTOMI-kan antara "pelaku" penutupan jalan VS "korban" jalan ditutup, dimana kedua pihak beda agama. Imajinasi liar itu sudah menyeret pemirsa untuk berpikir ke arah konflik SARA.
Gara-gara sekelompok ummat Islam menggelar pengajian, maka ambulance yang mengangkut pasien kristiani tak boleh lewat. JAHAT sekali bukan imajinasi berpikirnya?!

*** *** ***

Kalau mau bicara soal aktivitas keagamaan lalu mempertanyakan bagaimana nanti kalau ada kejadian begini, bagaimana kalau begitu, dll, bisa saja kita usil berimajinasi soal Nyepi, misalnya.

Pada hari Nyepi, penerbangan dan semua aktivitas di bandara dihentikan, penyeberangan kapal di pelabuhan juga dihentikan. Lalu semisal ada yang berandai-andai bagaimana kalau ada seorang tua yang meninggal dini hari di hari Nyepi, sementara anak-anaknya tinggal di luar pulau Bali. Menurut Islam, jasad ortu tersebut harus segera dimakamkan hari itu juga. Sementara anak-anaknya tidak bisa datang pada hari itu karena semua penerbangan dan penyeberangan tidak beroperasi.
Bukankah wajar kalau ada yang berpikir seperti ini?  Tapi kenapa kita tidak NYINYIR dan membiarkan imajinasi liar macam ini jadi topik pembicaraan publik bahkan sampai harus dibuat videonya?
Jawabnya : karena kita BERTOLERANSI,  toleransi secara luas, termasuk tidak mau mengedepankan kemungkinan kejadian buruk seperti itu terjadi dan kemudian menyalahkan aktivitas keagamaan pihak lain yang berbeda dengan kita.

Dua tahun lalu, Idul Fitri tahun 2015, ketika sebuah masjid kecil dibakar hanya karena jamaahnya mengumandangkan takbir idul fitri, adakah yang mengangkat issu ini jadi besar, selain hanya segelintir ummat Islam yang terluka?!
Adakah kepolisian membuat video atau iklan layanan masyarakat yang menghimbau agar perilaku seperti ini dijauhi?!
Adakah yang membuat kritikan bagaimana jika pembakar masjid diundang ke istana, tidakkah itu justru memberi kesan bahwa perilaku INTOLERAN justru mendapat REWARD dari istana?!

Come on!
Bangsa ini sudah puluhan tahun bertoleransi dalam DIAM, menjalankan dan mempraktekkan toleransi TANPA GEMBAR GEMBOR dan tidak sok paling bhinneka, tidak mengklaim paling pancasila.

Ketika kita tidak pernah mempersoalkan penutupan bandara dan pelabuhan sehari penuh dalam rangka menghormati hari Nyepi, itulah bentuk toleransi.
Ketika kita tidak membiarkan imajinasi liar kita berfantasi mengandaikan kejadian buruk yang bakal terjadi gara-gara penutupan itu, maka inilah TOLERANSI yang sebenarnya, kita memendam semua itu dalam hati dan cukup berharap agar jangan terjadi hal buruk.

Sebaliknya, jika hanya karena melihat jalan ditutup sementara waktu karena ada pengajian, lalu imajinasi liar berfantasi secara RASIS dengan menonjolkan keburukan sebagai dampak adanya pengajian yang menutup jalan, maka itulah sejatinya bentuk INTOLERANSI!!
Apalagi kemudian divisualisasikan dalam bentuk video, lalu video usil bermuatan SARA itu diapresiasi sebagai yang terbaik, oleh institusi yang seharusnya jadi pengayom masyarakat, maka inilah bentuk INTOLERANSI YANG DIFORMALKAN, SARA YANG DILEGALKAN, RASISME YANG DIDUKUNG.

Pertanyaan besarnya : KENAPA HANYA KAMI,  UMMAT ISLAM, YANG SELALU DIPROVOKASI??!!

0 comments:

Post a Comment