Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Permisalan teman yang baik dengan teman yang buruk adalah ibarat penjual minyak kasturi dan pandai besi.
Si penjual minyak kasturi bisa jadi akan memberimu minyaknya tersebut atau engkau bisa membeli darinya, dan kalaupun tidak, maka minimal engkau akan tetap mendapatkan aroma harum darinya.
Sedangkan si pandai besi, maka bisa jadi (percikan apinya) akan membakar pakaianmu, kalaupun tidak maka engkau akan tetap mendapatkan bau (asap) yang tidak enak.”
_(HR. al-Bukhari no. 5534, Muslim no. 2628)._
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan:
🍓“Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan seorang teman yang baik dengan penjual minyak kasturi, dan teman yang buruk dengan tukang pandai besi.
🍎 Dalam hadits ini juga terdapat keutamaan berteman dengan orang-orang shalih, pelaku kebaikan, orang-orang yang memiliki wibawa, akhlak yang mulia, sifat wara’, ilmu serta adab.
🍇Sekaligus juga terdapat larangan untuk bergaul dengan para pelaku kejelekan dan kebid’ahan, serta siapa saja yang suka mengghibah (membicarakan kejelekan orang lain tanpa sepengetahuannya), banyak melakukan keburukan, kebatilan, serta sifat-sifat tercela lainnya.”
_(Syarah Shahih Muslim, Imam an-Nawawi, Dar al-Ma’rifah, Beirut 1429 H, Juz 16 halaman 394)._
📚*ADMIN KUMPULAN HADITS*📚
🌽 *TANYA JAWAB*🌽
1⃣Saya ingin bertanya ttg bid'ah dan bagaimana cara kita bisa mengetahui apakah itu bid'ah atau bukan. Dan bagaimana cara menyikapi nya..
🌮 *JAWABAN* 🌮
Setiap ibadah dan perkara dalam agama ini yang tidak dilakukan Rasulullah dan para sahabat maka hal itu bid'ah. maka, jika terdapat suatu ritual ibadah, tidak ada riwayat dari keduanya maka itulah bid'ah.
2⃣Assalamu'alaikum admin. Saya salah mau brtanya .
Apakah jika ada penyakit hati atau dosa bathin (hati) selama hal itu tdk diucapkan atau dilakukan maka tdk dicatat suatu dosa?
🌮 *JAWABAN* 🌮
Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin –rahimahullah–
Soal:
Wahai Syaikh yang kami hormati, apakah setiap bisikan hati itu dimaafkan? Syaikh, semoga Allah senantiasa menjaga anda, lalu bagaimana mencari titik tengah antara hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
إن الله تجاوز عن أمتي ما حدثت به أنفسها ما لم تعمل أو تتكلم
“Sungguh Allah memaafkan bisikan hati dalam diri umatku, selama belum dilakukan atau diucapkan“
dengan firman Allah Ta’ala:
وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
“Barangsiapa berada di dalamnya lalu ia menginginkan untuk menyimpang bersama kezhaliman, Allah akan menimpakan kepadanya adzab yang pedih“
Jawab:
Pertama, hadiitsun nafs (bisikan hati) itu tidak dikatakan sebagai al hamm (keinginan) dan bukan juga ‘azimah (tekad). Ia hanyalah bisikan di dalam hati antara ingin melakukan atau tidak ingin melakukan. Dan sekedar bisikan hati itu dimaafkan. Karena setan tiada henti membisikkan kepada hati manusia untuk melakukan dosa besar dan kemurtadan. Andai bisikan hati itu teranggap, maka ini adalah bentuk pembebanan yang tidak mungkin bisa dipikul oleh manusia.
Sedangkan al hamm (keinginan) adalah tahap selanjutnya setelah bisikan hati. Yaitu setelah seseorang hatinya berbisik lalu ia menetapkan sebuah al hamm (keinginan) atau al azimah (tekad). Inilah yang bisa dikenai sanksi jika ia tidak meninggalkan keinginan untuk melakukan hal diharamkan oleh Allah. Jika seseorang mengurungkan keinginannya untuk melakukan hal yang diharamkan, ia pun diberi pahala yang sempurna. Sebab ia mengurungkan keinginannya itu karena takut dan ikhlash kepada Allah –Azza Wa Jalla-. Maka ia pun mendapat pahala yang sempurna. Oleh karena itu, sudah semestinya kita membedakan antara bisikan hati dan keinginan hati.
Adapun tentang firman Allah Ta’ala mengenai Masjidil Haram:
وَمَن يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
“Barangsiapa berada di dalamnya lalu ia menginginkan untuk menyimpang bersama kezhaliman, Allah akan menimpakan kepadanya adzab yang pedih“
Maksudnya adalah, barangsiapa yang memiliki al hamm (keinginan) yang kuat untuk melakukan sebuah penyimpangan, yaitu berupa maksiat yang nyata, maka Allah akan menimpakan adzab yang pedih.
Sudah semestinya kita bedakan dua hal ini, karena Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ
“Wahai orang yang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah, Ia akan jadikan bagi kalian pembeda dan mengampuni dosa-dosa kalian“
Allah Ta’ala menamai Al Qur’an sebagai Al Furqan (Pembeda) karena Al Qur’an membedakan banyak hal, membedakan antara yang haq dengan yang batil, antara manfaat dan bahaya, antara mu’min dan kafir, antara hak Allah dan hak hamba, dan hal-hal yang lain yang terdapat perbedaan. Demikian.
3⃣ Bagaimana ukh ngehadepin teman yang mau nya deketin kita itu karena 'hanya' ingin ikut eksistensi saja.. Sedangkan ketika saya membutuhkannya, dia seperti enggan..
🌮 *JAWABAN* 🌮
Tinggalkan orang seperti ini. Dia bukan teman yang baik.
Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah berkata :
وفى جملة، فينبغى أن يكون فيمن تؤثر صحبته خمس خصال : أن يكون عاقلاً حسن الخلق غير فاسق ولا مبتدع ولا حريص على الدنيا
“ Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut : orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia” (Mukhtasar Minhajul Qashidin 2/36).
4⃣ Bagaimana bila teman marah karna upload foto kita, padahal dia ga izin dulu untuk upload foto itu
🌮 *JAWABAN* 🌮
Ukhti harus meminta maaf padanya karena ukhti telah berbuat zhalim, kemudian ukhti hapus fotonya..
5⃣ Ada teman yang selalu seperti mendukung saya, padahal di balik aksinya itu ada niat yang membuat saya justru down. Dan saya tau itu dari sahabat saya sendiri. Harus diapakan?
🌮 *JAWABAN* 🌮
Hendaknya engkau mencari teman yg sholih yang dapat menjadikan agama dan akhiratmu lebih baik..
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)
6⃣ Bagaimana jika kita berteman dengan teman yg kurang baikk sikapnya dimasyarakat akn tetapi hatinya ikhls dn bersih untuk selalu membgikn sebagian gaji hsil kerjanya untuk ank yatim ?? Apakah saya berteman dengan orng yng salah... ?? Terimaksih
🌮 *JAWABAN* 🌮
Hendaknya kita berteman dengan teman yang baik agamanya .. Siapa yang baik agamaya maka akhlaknya akan mengikuti.
Siapa yang jelek akhlaknya maka agamanya juga jelek. Karena keduanya adalah 2 hal yg tidak dapat dipisah.
seseorang ahli sedekah, namun akhlak tidak baik, maka ini juga tidak cukup.
Pernah terjadi di zaman Rasulullah, wanita, ahli puasa,shalat malam,sedekah, namun ia suka menyakiti tetangganya degngan lisannya.
Maka kata nabi shallallahu'alaihiwasallam "la khoiro fiha hiya fin naar" tak ada kebaikan padanya, dia di neraka.
Karenanya hendaknya kita semua berusaha ntuk berakhlak yg baik
7⃣ Admiin yaa ukh .. apa hukum berteman dengan orang kafir ,, tetapi dia tdk mempengaruhi saya dan mengajak saya kepada kekafiran , syukron
🌮 *JAWABAN* 🌮
Al-Hamdulillah. Allah melarang kaum mukminin untuk menjadikan orang-orang Yahudi dan orang-orang kafir lainnya sebagai wali, baik dalam arti orang yang dicintai, dijadikan saudara, penolong, atau dijadikan sebagai sahabat karib, kalau mereka orang-orang kafir yang memerangi kaum muslimin. Allah berfirman:
"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka denga pertolongan yang datang daripada-Nya.Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya.Mereka itulah golongan Allah.Ketahuilah, bhwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung."(QS.Al-Mujadilah : 22)
Juga firman Allah:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.
Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata:"Kami beriman"; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka):"Marilah kamu karena kemarahanmu itu". Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.
Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan." (QS.Ali Imran 118-120)
Banyak lagi nash yang senada dengan itu dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul. Namun Allah tidak melarang membalas kebaikan orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslimin, atau saling membantu dalam hal-hal yang mubah, seperti berjual beli, saling memberi hadiah dan sejenisnya. Allah berfirman:
"Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (Al-Mumtahanah : 8)
Wabillahit Taufik.
Diambil dari fatwa Al-Lajnah Ad-Daa-imah yang diketuai oleh Syaikh Ibnu Baaz -Rahimahullah- II : 42.
Sebagai tambahan dari penjelasan terdahulu, hendaknya kita mencermati beberapa hal berikut:
a. Perbedaan antara bergaul dengan baik dan bersahabat.
b. Perbedaan antara meminta tolong kepada mereka dalam urusan bisnis, urusan pelajaran dan bekerja sama dengan mereka, dengan persahabatan yang mengharuskan adanya cinta kasih, keakraban dan saling mempengaruhi.
c. Perbedaan antara mengadakan hubungan dengan mereka untuk mendakwahinya dengan mengadakan hubungan demi persahabatan tanpa tujuan yang disyariatkan. Hendaknya pergaulan kita dengan orang-orang kafir di sekitar kita adalah untuk tujuan ini. Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada Anda untuk menolong agama Allah dan bersahabat dengan orang-orang yang taat. Semoga shalawat terlimpahkan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Islam Tanya & Jawab
Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid
📚ADMIN KUMPULAN HADITS📚
🔁KUMPULAN HADITS

0 comments:
Post a Comment