Sunday, July 2, 2017

Penjamin Darah Seorang Muslim

Dua laki-laki kakak beradik, meminta Umar bin Khattab agar ia menegakkan had kepada anak muda belia yang membunuh ayah mereka. Kemudian Umar bertanya kepada anak muda belia yang menjadi tersangka, “Wahai anak muda, benarkah perkara ini?” Anak muda belia menjawab, “Benar wahai Amirul Mukminin.” Umar berkata, “Ceritakanlah kejadiannya!” Kemudian, pemuda tadi bercerita, “Aku datang dari negeri yang jauh. Begitu sampai di kota ini, kutambatkan kudaku disebuah pohon dekat kebun milik keluarga mereka. Kutinggalkan ia sejenak untuk mengurus suatu kebutuhan tanpa aku tahu ternyata kudaku mulai memakan sebagian tanaman yang ada di kebun mereka.”_

🌾 _Semberi menghela nafas, dia melanjutkan ceritanya; “Begitu kembali, aku melihat seorang lelaki tua (ayah dari kedua kakak adik ini), sedang memukul kepala kudaku dengan batu hingga hewan malang itu tewas mengenaskan. Melihat kejadian itu, aku dibakar amarah dan kuhunus pedang. Aku khilaf, aku telah membunuh lelaki tua itu. Aku memohon ampun kepada Allah karenanya.”_

🌾 _Umar melihat pada beliau yang tertuduh itu. Usianya masih sangat muda. Pantas saja dia mudah dibakar amarah. Tetapi sangat jelas  bahwa wajahnya teduh. Akhlaqnya santun. Gurat- gurat sesal tampak jelas membayang di air mukanya. Umar iba dan merasa alangkah sia-sianya jika anak muda penuh adab dan berhati lembut ini harus mati begitu pagi. Sambil menoleh kepada kedua pemuda kakak beradik, Umar berkata, “Bersediakah kalian menerima pembayaran diyat dariku atas nama pemuda ini dan memaafkannya?” kedua pemuda tersebut saling pandang dan kemudian berkata,” Demi Allah, sungguh, kami sangat mencintai ayah kami. Dia telah membesarkan kami dengan penuh cinta. Keberadaannya di tengah kami takkan terbayarkan dan tergantikan dengan diyat sebesar apapun. Lagipula kami bukanlah orang miskin yang menghajatkan harta. Hati kami baru akan tentram jika had ditegakkan!”_

🌾 _Umar terhenyak sembari bertanya kepada terdakwa, “Bagaimana menurutmu?” “Aridha hukum Allah ditegakkan atasku, wahai Amirul mukminin,” kata si pemuda belia dengan yakin. “Namun, ada yang menghalangiku untuk sementara ini. Ada amanah dari kaumku atas beberapa benda maupun perkara yang harus aku sampaikan kembali pada mereka. Demikian juga keluargaku. Aku bekerja untuk menafkahi mereka. Hasil jerih payah di perjalanan terakhirku ini harus aku serahkan pada mereka sembari berpamitan memohon ridha dan keampunan ayah ibuku.” Umar trenyuh. Tak ada jalan lain, hudud harus ditegakkan. Tetapi pemuda itu juga memiliki amanah yang harus ditunaikan. “Jadi bagaimana?” Tanya Umar._

🌾 _“Jika engkau mengizinkanku , aku minta waktu tiga hari untuk kembali ke daerah asalku guna menunaikan segala amanah itu. Demi Allah, aku pasti kembali di hari ketiga untuk menetapi hukumanku. Saat itu tegakkanlah had untukku tanpa ragu.”_

🌾 _Kemudian Umar berkata; “Adakah orang yang bisa menjaminmu?” Aku tak memiliki seorang pun yang kukenal di kota ini hingga dia bisa kumintai menjadi penjaminku. Aku tak memiliki seorang pun penjamin kecuali Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”_

🌾 _“Tidak! Demi Allah, tetap harus ada seseorang yang menjaminmu atau aku tak bisa mengizinkanmu pergi,” kata Umar. Pemuda tersebut menjawab, “Aku bersumpah dengan nama Allah yang amat keras adzabnya. Aku takkan menyalahi janjiku.” Umar berkata, ”Aku percaya. Tapi tetap harus ada manusia yang menjaminmu!”_

🌾 _“Aku tak punya!” kata pemuda belia tesebut. Tiba-tiba tedengar sebuah suara yang berat dan berwibawa, menyela, “Jadikan aku sebagai penjamin anak muda ini dan biarkanlah dia menunaikan amanahnya!” suara itu milik Abu Dzar yang tampil mengajukan diri._

🌾 _Kemudian Umar memanggil kedua kakak beradik dan bertanya,”Apakah kalian bersedia menerima penjaminan dari Abu Dzar atas orang yang telah membunuh ayah kalian ini? Adapun Abu Dzar, demi Allah, aku bersaksi tentang dirinya bahwa dia lelaki ksatria yang jujur dan tak sudi berkhianat.”Kedua pemuda itu saling pandang dan berkata, “Kami menerima.”_

🌾 _Seiring berjalannya waktu, tiga hari yang telah disepakati untuk sang terdakwa pun hampir berakhir. Umar gelisah tak karuan. Dia mondar mandir sementara Abu Dzar duduk khusyu’ di dekatnya. Abu Dzar tampak begitu tenang padahal jiwanya di ujung tanduk. Andai lelaki pembunuh itu tidak datang memenuhi janji, maka dirinyalah selaku penjamin yang akan menggantikan tempat sang terdakwa untuk menerima qishash._

🌾 _Karena khawatir akan ketidakdatangan sang terdakwa sehingga sang sahabat Abu Dzar akan menjadi penggantinya, satu per satu dari para sahabat mengajukan dirinya untuk menjadi pengganti Abu Dzar, tapi Abu Dzar menolak. Di puncak kekhawatiran para sahabat, tiba-tiba tampak seorang yang datang dengan berlari tertatih dan terseok. “Maafkan aku,” ujarnya dengan senyum tulus sembari menyeka keringat yang membasahi sekujur wajah. “Urusan kaumku itu ternyata berbelit dan rumit sementara untaku tak sempat beristirahat. Ia kelelahan nyaris sekarat dan terpaksa kutinggalkan di tengah jalan. Aku harus berlari-lari untuk sampai kemari sehingga nyaris terlambat.”_

🌾 _Mendengar penuturan dari pemuda tersebut, semuanya merasa iba. Mereka merasa tak rela jika sang pemuda harus berakhir hidupnya di hari itu. “Mengapa kau datang kembali padahal bagimu ada kesempatan untuk lari dan tak harus mati menanggung qishash?” Sembari tersenyum, pemuda tadi berkata, *“Sungguh jangan sampai orang mengatakan, "Tidak ada lagi orang yang menepati janji dan tak ada lagi kejujuran hati di kalangan kaum muslimin.”*_

🌾 _“Dan kau Abu Dzar”, kata Umar bergetar, “Unuk apa kau susah-susah menjadikan dirimu penanggung kesalahan dari orang yang tak kau kenal sama sekali? Bagaimana kau bisa mempercayainya?” Dengan wajah penuh keteguhan, Abu Dzar menjawab, *“Sungguh, jangan sampai orang mengatakan bahwa tidak ada lagi orang yang mau saling membagi beban dengan saudaranya, atau jangan sampai ada yang merasa tak ada lagi rasa saling percaya di antara orang-orang muslim.”*_

🌾 _Akan tetapi, tiba-tiba kakak beradik yang menggugat menyeruak, “Kami memutuskan untuk memaafkannya.” Kemudian, pemuda yang menjadi terdakwa itu sujud syukur. Abu Dzar tek ketinggalan menyungkurkan wajahnya ke arah kiblat mengagungkan asma Allah, kemudian diikuti oleh semua yang berada di tempat tersebut._

🌾 _Umar bertanya, “Mengapa kalian tiba-tiba berubah pikiran?” kedua kakak beradik tersebut menjawab, *”Agar jangan sampai ada yang mengatakan bahwa di kalangan umat Islam taka da lagi kata maaf, pengampunan, iba hati dan kasih saying.”*_

و الله المستعان......😊

0 comments:

Post a Comment